Tampilkan postingan dengan label Tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsaqofah. Tampilkan semua postingan
0

[Resume] Struktur Negara Khilafah

Posted by Unknown on 7/06/2016 09:53:00 AM in ,

Khilafah atau sistem pemerintahan Islam adalah sebuah resep hidup bernegara warisan Rasulullah saw., bahkan satu-satunya yang wajib digunakan oleh kaum Muslim. Karena itu, penting bagi kaum Muslim memahami struktur Negara Khilafah yang diambil (ditetapkan) dari struktur negara yang ditegakkan oleh Rasulullah saw. di Madinah, dan yang dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin sesudahnya.
Telaah Kitab kali ini akan membahas Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam pasal 23, tentang struktur Negara Khilafah, bahwa Negara Khilafah dalam bidang pemerintahan dan administrasi memiliki 13 struktur (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 113; Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, hlm. 96; Hizb at-Tahrîr, hlm. 82; dan Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 18).

0

ISTIQAMAH DI JALAN ALLAH

Posted by Unknown on 4/15/2016 09:23:00 PM in ,


Definisi
Menurut pengertian bahasa (literal), al-istiqaamah bermakna al-i'tidaal (lurus). Jika dinyatakan "istaqaama lahu al-amr", maknanya adalah tegak lurus.  Seperti halnya firman Allah swt, “Tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya”. [TQS al-Fushshilat (41): 6].    Makna "istiqamah" pada ayat ini adalah tegak lurus untuk selalu menghadap kepada Allah swt, tanpa berpaling kepada yang lain.  Istiqaamah juga bermakna al-istiwaa` (lurus dan setimbang).  Makna semacam ini bisa dijumpai di dalam surat al-Fushilat, "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah, kemudian beristiqamah.."[TQS al-Fushshilat [41]:30] Makna istiqamah di dalam ayat ini adalah melaksanakan ketaatan dan berpegang teguh kepada sunnah Nabi saw.”  Menurut al-Aswad bin Malik, ayat ini bermakna, "Janganlah kamu menyekutukan Allah swt dengan apapun".  Sedangkan Qatadah mengartikan istiqamah pada ayat itu dengan "teguh" untuk selalu mentaati Allah swt. [Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-’Arab, juz 12/ 499]

0

Urgensitas Peranan Media Massa bagi Setiap Ideologi

Posted by Unknown on 3/05/2015 09:50:00 PM in ,
Oleh: Tri Fani Arrohmah




Debut para pasangan capres-cawapres periode 2014-2019, semakin menghangat melalui media massa. Terlebih, dari pasangan capres-cawapres yang ada, tiga diantaranya mernguasai media massa Indonesia. Sebut saja ARB pemilik Bakrie Group dengan TV One, ANTV dan Viva news di dalamnya. Hari Tanoe, pemilik MNC Group, tidak hanya memiliki tiga stasiun televisi, yakni MNC TV, RCTI, dan Global TV, namun juga membawahi stasiun Radio Trijaya, majalah ekonomi dan bisnis Trust, serta tabloid remaja Genie. Dan yang terakhir, Surya Paloh, pemimpin Media Group, memiliki harian Media Indonesia, Lampung Pos, dan stasiun Metro tv. Hangatnya kampanye melalui media massa ini, bahkan sampai di luar batasan yang diatur UU, tiga partai dengan pemilik media massa di dalamnya (Golkar, Nasdem, dan Hanura), serta partai sang penguasa (Demokrat) dinyatakan telah melanggar aturan iklan kampanye di stasiun televisi oleh KPI. (Detik.news, 28/03/2014)
Keberadaan kampanye melalui media massa, salah satuya melalui media televisi, adalah konsekuensi logis dari besarnya keterjangkauan masyarakat Indonesia terhadap media massa terutama media televisi. Pada survey tahun 2012 terhadap penduduk berumur 10 tahun ke atas, ada 18.57% yang Mendengar Radio, 91.68% yang Menonton Televisi, 17.66% yang Membaca Surat Kabar/Majalah, dan 24.99% yang Melakukan Olahraga. (www.bps.go.id)

0

3 Maret 1924, Adakah Kau Ingat?

Posted by Unknown on 3/03/2015 10:40:00 PM in , ,



Oleh : Aif Saiful Ma’ruf (Ketua Umum Kalam UPI)
Masih adakah yang ingat dengan penghinaan terhadap Rasulullah Saw. Yang dilakukan oleh Majalah Charlie Hebdo beberapa waktu lalu? Pelarangan memakai kerudung di Cina? Kriminalisasi peremuan yang menggunakan burqa di Perancis? Penderitaan yang dialami umat Islam di Palestina? Masih adakah yang mengingatnya?
Jangan-jangan kita tidak pernah mengetahuinya, atau mungkin kita tahu tapi tidak mau peduli. Lalu menyibukkan diri dengan aktivitas sendiri dan mebiarkan semuanya terjadi begitu saja. Merasa tidak pernah terjadi apapun pada saudaranya. Merasa semua aman-aman saja dan umat Islam dalam keadaan baik. Seperti inikah kita?
Di negeri kita sendiri, Indonesia, sebuah negeri dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Kita pun menyaksikan berbagai fenomena yang ‘miris’ mengenai umat Islam. Generasi muda yang seharusnya menjadi calon pejuang Islam yang akan merintis peradaban Islam, justru malah ‘dibajak’ dengan berbagai kesenangan dunia. Mereka terlena hingga terjerat dengan penyalahgunaan narkoba, terlibat dalam dunia pergaulan bebas, tawuran, pacaran, aborsi dan berbagai kerusakan remaja lainnya. Lalu, jadilah mereka generasi-generasi yang mencintai dunia dan melupakan Islam sebagai jalan hidupnya.
Adakah kita menyadari hal ini? Ataukah kita tetap enggan membuka mata dan berpura-pura tidak menyadarinya?

0

Islam, Intelektual dan Perubahan Masyarakat

Posted by Unknown on 3/03/2015 10:15:00 AM in , ,



INTELEKTUAL, SIAPA MEREKA?

Y.B. Mangunjaya menyamakan istilah intelektual dengan istilah cendikiawan. Intelektual berasal dari akar-kata bahasa latin interlego atau intellego yang secara harfiah berarti “aku membaca diantaranya” atau “aku memisah-uraikan” sambil mengendapkan dalam bathini. Artinya dia adalah seseorang yang dalam dan intens memikirkan atau menghayati sesuatu (Wiratmo Soekito, Cendekiawan dan Politik, 1983:96, LP3S)

Dalam bahasa Inggris, intelektual berarti “ Having or showing good mental powers and understanding” (memiliki atau menunjukkan kekuatan-kekuatan mental dan pemahaman yang baik). Diartikan juga Intelektual sebagai  “the power of mind by which we know, reason and think” (kekuatan pikiran yang dengannya kita mengetahui, menalar dan berfikir).

Lewis A. Coser dalam bukunya Men of Idea menyatakan bahwa cendikiawan adalah orang-orang yang tidak pernah puas menerima kenyataan sebagaimana adanya…Mereka mempertanyakan kebenaran yang berlaku saat itu, dalam hubungannya dengan kebenaran yang lebih tinggi dan lebih luas (1965: hal. Viii)


Copyright © 2009 Latifah Ata All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.