0

Sandi-Sandi Perjuangan

Posted by Unknown on 2/28/2015 07:23:00 AM in , ,


Si jago merah yang mengamuk tentu hanya bisa ditenangkan oleh air. Apapun penyebabnya, akibatnya adalah yang paling cepat ditangani oleh pemadam kebakaran. Ya, mungkin analogi ini sangat tepat jika kita tautkan dengan perjuangan pemuda kini. Kaum muda yang gereget dengan kondisi chaos yang telah lewat ambang batas di negara ini, kebanyakan hanya menawarkan bahkan memperjuangkan solusi yang parsial. Bak pemadam kebakaran, saat ada api saat itulah bertindak. Kaum muda kurang jeli melihat sebab dan hanya fokus pada akibat. Jika pun ada yang memikirkan sebabnya, terlalu banyak penafsiran akan akar persmasalahannya. Sehingga kompas pergerakan dan perjuangan pemuda pun menunjuk pada arah utara yang kian berlainan.




Setiap pergerakan memiliki sandi yang menentukan nyala-redupnya rambu-rambu perjuangannya. Setiap pergerakan muncul tidak mungkin tanpa latar belakang, atas dasar idealisme apa mereka bisa lahir, tumbuh dan berkembang. Mereka menempuh rel yang telah ditentukan oleh sandi ini, mereka disetir dan dinahkodai olehnya. Pergerakan pemuda khususnya, menjadi jantung revolusi di berbagai negeri. Di indonesia sendiri, peran vital pemuda sebagai lokomotif perjuangan tak perlu disangsikan, karena telah ada semenjak tahun 1908 silam. Semangat perjuangan meletup-letup menyusuri estafetnya hingga kini, kian hari kian berwarna pula mainstream perjuangan itu.

Siapapun bisa mengindra kondisi Indonesia, yang sedang sakit secara multidimensi, mulai dari tukang becak sampai insinyur penerbangan, mulai dari nelayan sampai menteri kelautan, mulai dari orang miskin sampai orang gedongan. Semua menggeleng-gelengkan kepala, memandang akan ironi kebangkitan yang masih saja dicita-citakan meski telah merdeka 69 tahun lamanya. Tentu kondisi inilah yang mengusik jiwa sang agent of change, mereka saling berlomba menyuarakan perbaikan. Hanya saja, perjuangan ini tak terlepas dari sandi-sandi yang mereka simpulkan. Sayang, berbagai pergerakan yang diusung ternyata malah berkutat pada masalah-masalah yang merupakan gejala dari sebuah akar permasalahannya.

Seperti mereka yang menyimpulkan bahwa akar dari setiap permasalahan Indonesia ada pada moral pemimpinnya. Maka mereka akan fokus melakukan perbaikan moral. Yang lain menyimpulkan bahwa permasalahan utama ada pada ranah pendidikan, maka mereka hanya akan berjuang dalam ranah itu saja. Atau menganggap lemahnya ekonomi Indonesia sebagai akar masalahnya, maka akan berusaha memperbaiki keadaan ekonomi saja. Hal ini sangatlah disayangkan, karena perjuangan yang parsial hanya akan menghasilkan perbaikan yang parsial pula. Kesalah pahaman dalam mencari solusi diawali karena kesalah pahaman terhadap penemuan akar masalah. Ketika berbagai pergerakan menggagas solusi yang tak solutif, maka permasalahan tidak akan pernah tamat.

Selain itu, diskusi-diskusi mengenai permasalahan kekinian justru sepi pengunjung, baik. Ikatan yang menyatukan sinergi antar organ gerakan pemuda pun lemah dan hanya bersifat kepentingan sesaat dan emosional, tak ayal karena perjuangan pemuda pun kini telah ditunggangi oleh banyak kekuatan politik yang kebablasan. Berbagai aksi yang ada hanya mengikuti trend, sangat reaktif dan reaksioner. Kuantitas dan kualitas pergerakan semakin melemah dengan visi yang tidak jelas dan pragmatis. Ditambah pula dengan kondisi pemuda yang individualis, apatis, apolitis, pragmatis, oportunis dan hedonistis. Astaghfirullaah, lengkaplah sudah kegamangan pergerakan kini. Niat hati meminang kebangkitan dengan mahar perjuangan tapi kesejahteraan tak kunjung didapatkan.

Kesimpang-siuran pergerakan pemuda kini sungguh sangat disayangkan. Karena sejatinya, pemuda memiliki segudang potensi yang mampu menggulingkan peradaban. Terhitung didalamnya usia yang produktif, idealisme dan independensi yang tinggi, terlebih mahasiswa yang identik dengan kaum intelektual dengan pendidikannya yang tinggi. Bahkan pemuda juga bergelar agent of change, iron stock, moral force, social control dan guardian of value. Tapi gaung pemuda kini tak terdengar riuhnya, geliatnya pun tak berefek lagi.

Padahal jika kita telisik, buruknya moral masyarakat dan pemimpinya, tinginya angka kriminalitas, melesatnya jumlah orang yang miskin, sulitnya akses pendidikan dan kesehatan, meroketnya harga kebutuhan pokok dan kesempatan hidup lainnya, mengerucut pada satu biang kerok. Allaah Swt telah berfirman:


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)  manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ [Q.S Ar-Ruum : 41]


Semua kerusakan dan keabnormalan yang bisa terasa adalah karena manusia bermaksiat pada Pencipta yang Maha Mengatur kehidupannya, bermaksiat dengan mengatur dirinya sendiri dan tak mengindahkan aturan Penciptanya. Pergerakan yang ada justru ditopang oleh orang-orang yang mengjaga penerapan hukum yang tidak berasal dari Sang Pencipta. Mereka memperjuangkan perjuangan politik praktis yang malah mengukuhkan hukum tersebut. Terlebih lagi dengan diinjeksikannya faham kebebasan dan liberalisme, pergerakan-pergerakan pun kian tersesat dan kehilangan arah. Kini, sistem Demokrasi Kapitalisme lah yang menuntun pergerakan pemuda dengan membajak segenap potensinya. Saat sistem Demokrasi diterapkan, maka kata kebangkitan hanyalah mimpi di siang bolong. Karena Demorasi adalah sistem yang cacat sejak lahir. Bahkan Plato (472-347 SM) mengatakan bahwa liberalisasi adalah akar demokrasi, sekaligus biang petaka mengapa negara demokrasi akan gagal selama-lamanya.


Pembaca yang budiman, pembajakan potensi pemuda oleh Demokrasi telah membuat pergerakan-pergerakan koma dengan mengalihkan makna akan kebangkitan yang hakiki. Akar permasalahan di negeri ini bersifat sistemik, maka seharusnya solusi yang digagas dan diperjuangkan pun solusi yang sistemik pula. Patut kita perhatikan, bahwa sesungguhnya ada sistem lain yang mampu mengoptimalkan potensi dan peran strategis pemuda, yaitu Islam.


Dengan Islam, pemuda akan mampu menghapus kemaksiatan dan menggembalikan kehidupan sesuai dengan hukum Sang Pencipta. Islam akan membentuk pemuda berkepribadian Islam, pemuda yang berilmu dan berdedikasi bagi masyarakat, pemuda yang berkarakter pemimpin dan bervisi besar untuk mengurusi urusan masyarakat. Hanya dengan Islam yang diterapkan sebagai sistem dalam sebuah institusi kenegaraan, kebangkitan tidak akan hanya sebagai isapan jempol belaka. Negara bersistemkan Islam inilah yang disebut dengan negara Khilafah Islamiyah. Negara Khilafah akan menjamin penerapan sistem pendidikan Islam bagi pembentukan kepribadian Islam, keilmuan serta karakter pemimpin pemuda. Lebih jauh, Khilafah juga menjamin akses pendidikan yang non komersil untuk semua warga negara. Khilafah akan mengkondisikan kultur masyarakat yang mencintai ilmu.


Wahai pemuda! Tidak ada lagi waktu untuk bingung dan diam, karena masyarakat telah sekian lama merintih kesakitan. Sudah saatnya kita bangun dan mulai menempa diri dengan Islam. Sudah saatnya kita untuk aktif dalam aktivitas menuju perjuangan sistemik dan mengusung revolusi suci menuju penerapan sistem Islam. Sudah saatnya kita menselaraskan sandi-sandi perjuangan dengan membentuk mainstream pergerakan pemuda menuju Khilafah Islamiyah.


Wa Allaahu a’lam bi ash-showaab. 


Atik Latifah

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia
Anggota Kajian Islam Mahasiswa UPI 

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 Latifah Ata All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.