0
Hari Perempuan Internasional: Derifat Kondisi Chaos Perempuan di Dunia
Perempuan. Dalam panggung sejarah, perempuan
adalah aktor yang berperan sebagai entitas yang seringkali dilakukan tak
manusiawi. Saat zaman Romawi dan Yunani Perempuan tidak punya kedudukan di
depan hukum. Saat zaman Jahiliyyah di Arab Perempuan dianggap aib hngga dibunuh
sejak bayi. Dalam kebudayaan Hindu pun, perempuan yang baik adalah yang
mendewakan suaminya. Lain halnya kalangan Yahudi yang menganggap perempuan
sebagai sumber kesialan dan dosa karena telah menggelincirkan nabi Adam. Rahib
di kalangan Nasrani pun memandang perempuan sebagai sumber kejahatan. Tak
tertinggal pula, telah jadi mindset
di tengah-tengah masyarakat sejak dulu, bahwa perempuan adalah warga dunia
kelas dua yang kerjanya hanya di sumur, kasur dan dapur. Barangkali, kepahitan
yang tertelan dalam ingatan inilah yang menggerakkan PBB untuk menetapkan 8
Maret sebagai Hari Perempuan Internasional (Women’s
Internasional Day/ WID).
Ditilik dari keberlangsungan perjuangan perempuan,
banyak orang berkata bahwa peringatan yang ditetapkan tahun 1978 ini menjadi
penting karena merupakan suatu titik tolak, titik dimana perempuan
mengorganisasi diri dan memperjuangkan hak-haknya. Tanggal 8 Maret adalah momentum
kebangkitan perempuan dari segala bentuk penganak-tirian dunia atasnya.
Momentum untuk menyadarkan masyarakat dunia agar menghormati perempuan dan
menghilangkan segala bentuk diskriminasi gender yang terjadi. Hari Perempuan
Internasional tiap tahunnya selalu diperingati di seluruh dunia, membawa
harapan angin segar perubahan kondisi perempuan untuk meraih kehormatan.
Sayangnya, peringatan ini bak mimpi khayali. Karena sampai detik ini kondisi
perempuan yang jauh dari kemuliaan belum juga terdegradasi.
Selama puluhan tahun, kaum perempuan di dunia tetap
mengalami kemiskinan, eksploitasi, tekanan politik, ketidakadilan dan pelecehan.
Tingkat epidemik perkosaan, penyiksaan, kekerasan, pelecehan seksual dan
diskriminasi di ruang publik telah melewati titik nadir. Perempuan korban
kekerasan seksual tercatat tertinggi terjadi di sub-Sahara Afrika,
yakni sebesar 21 persen di bagian tengah Afrika (Republik Demokratik Kongo);
dan 17,4 persen di wilayah selatan Afrika yang meliputi Namibia, Afrika Selatan
dan Zimbabwe. Diikuti oleh 16,4 persen di Australia dan Selandia Baru (news.detik.com). Sangat mengerikan, dari
Timur sampai Barat: Indonesia, Jepang, India, China, Rusia, Zimbabwe, Kenya,
Inggris sampai Amerika Serikat; di setiap sudut dunia kekerasan terhadap
perempuan mencapai angka yang fantastis (sosbud.kompasiana.com). Selain itu
adalah kemiskinan, buta huruf dan kurangnya akses terhadap kebutuhan dasar
seperti pendidikan dan kesehatan yang mewabah. Padahal, selama puluhan tahun itu
juga Hari Perempuan Internasional diperingati. Tapi kehormatan perempuan seakan
semakin jauh dari pandangan.
Publik pun bertanya, sebenarnya apa yang menjadi
sebab utama kondisi ini terus terjadi?
Kasus kejahatan, kemiskinan dan ketidak adilan yang
dialami perempuan, tentu disebabkan oleh banyak faktor. Kasus perkosaan
misalnya, terjadi karena rangsangan seksual yang tinggi. Mulai dari
konten-konten pornografi yang sangat mudah diakses mulai dari anak SD sampai
orang dewasa. Konten tersebut terdapat pada iklan-iklan dan tontonan di layar
televisi. Faktor yang tak kalah penting adalah perilaku perempuan itu sendiri.
Banyaknya perempuan yang mengumbar aurat, memakai rok mini dan sebagainya tentu
merangsang insan lelaki yang lemah imannya, hingga tidak ragu berperilaku bejat
seperti pelecehan seksual hingga pemerkosaan.
Masalah kemiskinan pun tak mau kalah. Data BPS
tahun 2009 menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 32,53
juta jiwa (14,15%), 70 persennya adalah perempuan (humaniora.kompasiana.com). Salah satu
penyebab utamanya adalah karena tidak meratanya distribusi kekayaan, yang hanya
berputar di tangan-tangan para pemilik modal. Kebijakan-kebijakan rusak yang melegalkan
sektor-sektor sumber daya alam dimiliki individu memperparah kondisi ketimpangan
ini.
Saat ini, mayoritas negara di dunia (kalau tidak
bisa disebut seluruhnya) menerapkan sebuah sistem demokrasi yang bernafaskan
atas kebebasan (liberal) dan pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme). Sistem
yang terbukti gagal menyelamatkan perempuan dari eksploitasi. Dalam demokrasi, jaminan rasa aman bagi
masyarakat sungguh sangat minim. Angkutan pun tak lagi aman. Rasa keadilan bagi kaum wanita
juga semakin sulit diperoleh. Hukuman yang dijatuhkan pada pelaku kejahatan
tidak memberi efek jera.
Kebebasan berkepemilikan yang dianut,
bahkan meniscayakan adanya privatisasi sumber daya alam yang berujung pada
kesengsaraan rakyat. Kebebasan bertingkah laku ala Demokrasi telah melegalkan
para perempuan mengenakan pakaian sesuka hati, dan tidak melarang peredaran
pornografi. Kebebasan inilah yang menjadi penyebab utama hilangnya kehormatan
dan kemuliaan perempuan. Solusi dengan penambahan kuota 30% perempuan di parlemen dan banyaknya
perempuan yang duduk di kursi kekuasaan daerah hanya menambah panjang daftar masalah kaum perempuan. Perceraian, broken home menjadi
buah kesibukan perempuan yang tiada arti.
Kondisi inilah yang terjadi di negara-negara penganut demokrasi yang tidak akan pernah bisa menjadi model untuk menjaga masa depan perempuan.
Berbeda dengan pandangan sekuler-liberalnya
demokrasi mengenai perempuan, Islam sudah mengatur posisi perempuan sedemikian
indah, imbang dan mulia bersanding dengan laki-laki. Islam memandang, perempuan
adalah makhluk yang secara manusiawi, sama dengan laki-laki. Allah SWT
menciptakan potensi pada perempuan dan laki-laki sama. Punya akal, perasaan dan
nafsu. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Selama 13 abad Islam diterapkan,
kemuliaan dan kehormatan perempuan terjaga dan dilindungi. Karena itu,
sejatinya bagi muslimah tidak perlu adanya hari khusus yang hanya jadi ajang ceremonial belaka, tidak memberikan efek
bagi kehormatan perempuan yang sepatutnya dilindungi. Daripada hanya sekadar
perayaan, Hari Perempuan Sedunia seharusnya mengalihkan perhatian dunia pada
tidak kredibelnya demokrasi sekular dalam menjaga kehormatan, kemuliaan dan hak
dasar perempuan. Saat ini sejatinya perempuan memberikan perhatiannya untuk kepada
Islam yang mampu menjaganya dan dapat menempatkan posisinya sesuai fitrahnya
yang terhormat sebagai ummu wa robbah al bayt
dan ummu ajyal.
Para pembaca yang budiman, perlakuan buruk terhadap
perempuan tidak akan bisa terselesaikan jika hanya diratapi dan ditonton, atau
hanya dengan merayakan peringatan belaka. Saatnya kita bersama-sama berjuang
untuk menerapkan Islam kembali, menerapkan sistem yang capable untuk menjadi tameng bagi hujan peluru perlakuan unmoral terhadap perempuan.
Wa Allaahu a’lam bi ash-showab.
Atik Latifah
Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan
Indonesia
Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Kajian Islam Mahasiswa (KALAM) UPI
Posting Komentar