0

Hari Perempuan Internasional: Derifat Kondisi Chaos Perempuan di Dunia

Posted by Unknown on 3/01/2015 11:46:00 PM in ,



Perempuan. Dalam panggung sejarah, perempuan adalah aktor yang berperan sebagai entitas yang seringkali dilakukan tak manusiawi. Saat zaman Romawi dan Yunani Perempuan tidak punya kedudukan di depan hukum. Saat zaman Jahiliyyah di Arab Perempuan dianggap aib hngga dibunuh sejak bayi. Dalam kebudayaan Hindu pun, perempuan yang baik adalah yang mendewakan suaminya. Lain halnya kalangan Yahudi yang menganggap perempuan sebagai sumber kesialan dan dosa karena telah menggelincirkan nabi Adam. Rahib di kalangan Nasrani pun memandang perempuan sebagai sumber kejahatan. Tak tertinggal pula, telah jadi mindset di tengah-tengah masyarakat sejak dulu, bahwa perempuan adalah warga dunia kelas dua yang kerjanya hanya di sumur, kasur dan dapur. Barangkali, kepahitan yang tertelan dalam ingatan inilah yang menggerakkan PBB untuk menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional (Women’s Internasional Day/ WID).

Ditilik dari keberlangsungan perjuangan perempuan, banyak orang berkata bahwa peringatan yang ditetapkan tahun 1978 ini menjadi penting karena merupakan suatu titik tolak, titik dimana perempuan mengorganisasi diri dan memperjuangkan hak-haknya. Tanggal 8 Maret adalah momentum kebangkitan perempuan dari segala bentuk penganak-tirian dunia atasnya. Momentum untuk menyadarkan masyarakat dunia agar menghormati perempuan dan menghilangkan segala bentuk diskriminasi gender yang terjadi. Hari Perempuan Internasional tiap tahunnya selalu diperingati di seluruh dunia, membawa harapan angin segar perubahan kondisi perempuan untuk meraih kehormatan. Sayangnya, peringatan ini bak mimpi khayali. Karena sampai detik ini kondisi perempuan yang jauh dari kemuliaan belum juga terdegradasi.


Selama puluhan tahun, kaum perempuan di dunia tetap mengalami kemiskinan, eksploitasi, tekanan politik, ketidakadilan dan pelecehan. Tingkat epidemik perkosaan, penyiksaan, kekerasan, pelecehan seksual dan diskriminasi di ruang publik telah melewati titik nadir. Perempuan korban kekerasan seksual tercatat tertinggi terjadi di sub-Sahara Afrika, yakni sebesar 21 persen di bagian tengah Afrika (Republik Demokratik Kongo); dan 17,4 persen di wilayah selatan Afrika yang meliputi Namibia, Afrika Selatan dan Zimbabwe. Diikuti oleh 16,4 persen di Australia dan Selandia Baru (news.detik.com). Sangat mengerikan, dari Timur sampai Barat: Indonesia, Jepang, India, China, Rusia, Zimbabwe, Kenya, Inggris sampai Amerika Serikat; di setiap sudut dunia kekerasan terhadap perempuan mencapai angka yang fantastis (sosbud.kompasiana.com). Selain itu adalah kemiskinan, buta huruf dan kurangnya akses terhadap kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan yang mewabah. Padahal, selama puluhan tahun itu juga Hari Perempuan Internasional diperingati. Tapi kehormatan perempuan seakan semakin jauh dari pandangan.

Publik pun bertanya, sebenarnya apa yang menjadi sebab utama kondisi ini terus terjadi?

Kasus kejahatan, kemiskinan dan ketidak adilan yang dialami perempuan, tentu disebabkan oleh banyak faktor. Kasus perkosaan misalnya, terjadi karena rangsangan seksual yang tinggi. Mulai dari konten-konten pornografi yang sangat mudah diakses mulai dari anak SD sampai orang dewasa. Konten tersebut terdapat pada iklan-iklan dan tontonan di layar televisi. Faktor yang tak kalah penting adalah perilaku perempuan itu sendiri. Banyaknya perempuan yang mengumbar aurat, memakai rok mini dan sebagainya tentu merangsang insan lelaki yang lemah imannya, hingga tidak ragu berperilaku bejat seperti pelecehan seksual hingga pemerkosaan.

Masalah kemiskinan pun tak mau kalah. Data BPS tahun 2009 menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 32,53 juta jiwa (14,15%), 70 persennya adalah perempuan (humaniora.kompasiana.com). Salah satu penyebab utamanya adalah karena tidak meratanya distribusi kekayaan, yang hanya berputar di tangan-tangan para pemilik modal. Kebijakan-kebijakan rusak yang melegalkan sektor-sektor sumber daya alam dimiliki individu memperparah kondisi ketimpangan ini.

Saat ini, mayoritas negara di dunia (kalau tidak bisa disebut seluruhnya) menerapkan sebuah sistem demokrasi yang bernafaskan atas kebebasan (liberal) dan pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme). Sistem yang terbukti gagal menyelamatkan perempuan dari eksploitasi. Dalam demokrasi, jaminan rasa aman bagi masyarakat sungguh sangat minim. Angkutan pun tak lagi aman. Rasa keadilan bagi kaum wanita juga semakin sulit diperoleh. Hukuman yang dijatuhkan pada pelaku kejahatan tidak memberi efek jera.

Kebebasan berkepemilikan yang dianut, bahkan meniscayakan adanya privatisasi sumber daya alam yang berujung pada kesengsaraan rakyat. Kebebasan bertingkah laku ala Demokrasi telah melegalkan para perempuan mengenakan pakaian sesuka hati, dan tidak melarang peredaran pornografi. Kebebasan inilah yang menjadi penyebab utama hilangnya kehormatan dan kemuliaan perempuan. Solusi dengan penambahan kuota 30% perempuan di parlemen dan banyaknya perempuan yang duduk di kursi kekuasaan daerah hanya menambah panjang daftar masalah kaum perempuan. Perceraian, broken home menjadi buah kesibukan perempuan yang tiada arti.

Kondisi inilah yang terjadi di negara-negara penganut demokrasi yang tidak akan pernah bisa menjadi model untuk menjaga masa depan perempuan.

Berbeda dengan pandangan sekuler-liberalnya demokrasi mengenai perempuan, Islam sudah mengatur posisi perempuan sedemikian indah, imbang dan mulia bersanding dengan laki-laki. Islam memandang, perempuan adalah makhluk yang secara manusiawi, sama dengan laki-laki. Allah SWT menciptakan potensi pada perempuan dan laki-laki sama. Punya akal, perasaan dan nafsu. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Selama 13 abad Islam diterapkan, kemuliaan dan kehormatan perempuan terjaga dan dilindungi. Karena itu, sejatinya bagi muslimah tidak perlu adanya hari khusus yang hanya jadi ajang ceremonial belaka, tidak memberikan efek bagi kehormatan perempuan yang sepatutnya dilindungi. Daripada hanya sekadar perayaan, Hari Perempuan Sedunia seharusnya mengalihkan perhatian dunia pada tidak kredibelnya demokrasi sekular dalam menjaga kehormatan, kemuliaan dan hak dasar perempuan. Saat ini sejatinya perempuan memberikan perhatiannya untuk kepada Islam yang mampu menjaganya dan dapat menempatkan posisinya sesuai fitrahnya yang terhormat sebagai ummu wa robbah al bayt dan ummu ajyal.

Para pembaca yang budiman, perlakuan buruk terhadap perempuan tidak akan bisa terselesaikan jika hanya diratapi dan ditonton, atau hanya dengan merayakan peringatan belaka. Saatnya kita bersama-sama berjuang untuk menerapkan Islam kembali, menerapkan sistem yang capable untuk menjadi tameng bagi hujan peluru perlakuan unmoral terhadap perempuan.

Wa Allaahu a’lam bi ash-showab.

Atik Latifah
Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia
Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Kajian Islam Mahasiswa (KALAM) UPI

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 Latifah Ata All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.