0

Frienship?

Posted by Unknown on 1/25/2016 11:08:00 AM in
Well, di sini saya mencoba untuk mendefinisikan beberapa hal yang merumitkan hidup saya. Tujuannya? Tadinya sih supaya hidup saya lebih jelas. Cekidot aja deh...^^




PARTNER
*disadur dari sebuah buku (dengan editan seperlunya)

Jika Anda pernah berbisnis, apa yang Anda harapkan dari seorang partner? Jika Anda pernah masuk dalam tim olahraga, apa yang Anda harapkan dari partner Anda?atau jika Anda sering menonton acara tv, khususnya serial polisi/ detektif, apa yang diharapkan oleh mereka dari partnernya? Yang sangat kita butuhkan dari partner adalah dukungan. Kita mengharapkan partner kita akan mendukung kita saat kita sedang lemah, saat kita sedang jatuh, atau saat kita sedang bingung. Kita membutuhkan partner yang bisa menutupi kelemahan kita jika memang dibutuhkan.kita membutuhkan partner yang mempercayai kita pada saat yang sulit. Kita membutuhkan kerja sama yang solid dari partner kita. Kita membutuhkan partner yang bisa diandalkan untuk menyelesaikan sebuah masalah, untuk mengejar apa yang kita perjuangkan.

Demikian juga dalam persahabatan. Bayangkan jika kedua belah pihak mau menjadi partner satu sama lain. Bayangkan betapa indahnya persahabatan yang hampir bisa dipastikan akan mengalami banyak cobaan dan goncangan. Bayangkan betapa senangnya kita atau sahabat saat mengetahui akan selalu ada partner yang siap membantu kita dalam menghadapi kondisi apapun. Inginkah Anda mengalami itu semua?

Untuk bisa menjadi partner yang baik, tentu tidak bisa terjadi dalam waktu yang singkat. Coba bayangkan salah satu pasangan ganda bulu tangkis kita yang legendaris, Ricky Subagja dan Rexy Mainaky. Pasangan ini meraih medali emas di Olimpiade Atlanta dan banyak lagi torehan tinta emas prestasi mereka. Luar biasa kekompakan mereka saat sedang bertanding. Mereka seakan-akan tahu persis ke arah mana pasangannya akan bergerak. Mereka sudah bisa saling mengandalkan. Menurut Anda, apakah kekompakan itu bisa mereka dapatkan dalam waktu singkat? Tentu saja tidak. Bahkan tidak mungkin! Dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Dibutuhkan kerja keras, komitmen, serta kemauan untuk saling mengenal watak dan karakter masing-masing. Tidak terhitung waktu yang mereka habiskan di lapangan saat latihan. Saat kebanyakan orang bisa bersantai, mereka menghabiskannya dengan keringat bercucuran di lapangan latihan. Dan hasilnya, mereka menjadi legenda di dunia bulu tangkis.

Untuk menjadi partner yang kompak dalam olahraga saja tetap dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Padahal, mungkin hanya akan bertahan selama beberapa tahun saja. Bisakah Anda bayangkan bagaimana perjuangan yang harus Anda lakukan untuk bisa menjadi partner sahabat Anda nantinya? Sudah terbayangkah perjuangan untuk bisa menjadikan sahabat Anda partner yang bisa diandalkan? Apakah itu bisa terjadi dengan sendirinya?


SAHABAT

Boleh saya tahu siapa sahabat yang paling dekat dengan Anda selama ini? Anda bisa sebutkan namanya? Yang saya maksud di sini adalah sahabat ya, bukan sekadar teman. Jika Anda harus berpikir cukup keras untuk bisa menyebut sebuah nama, saya merasa cukup prihatin. Karena setiap dari kita butuh minimal seorang sahabat. Betapa pentingnya peran sebagai seorang sahabat. Inginkah kita bisa bercerita mengenai apa pun tanpa takut disalah mengerti olehnya? Inginkah kita bisa berbagi apa pun mengenai apa yang kita rasakan tanpa takut dinilai rendah olehnya? Inginkah kita bisa berbagi impian tanpa takut dimentahkan olehnya? Inginkah kita ada seseorang yang berani mengingakan dengan tulus jika kita sedang lalai? Inginkah kita didampingi oleh seseorang yang sudah tahu kita luar-dalam, tetapi tetap memutuskan untuk menjadi sahabat kita?

Kata kuncinya di sini adalah “membuat”. Izinkan saya membagi pengalaman saya sendiri. Saya tumbuh menjadi seseorang dengan pribadi tertutup. Tidak mudah bagi saya untuk mengeluarkan apa yang saya pikirkan dan rasakan kepada orang lain. Hanya sedikit orang yang akhirnya bisa membuat saya mau terbuka kepada mereka, yang akhirnya menjadi sahabat saya. Jumlahnya tidak banyak. Tapi saya bisa tampil “bodoh” dan beloon di hadapannya. Dan saya juga ingin mereka bisa merasakan hal yang sama.


BERHARAP PADA MANUSIA

“Jangan berharap pada manusia, berharaplah pada Allah. Karena Dialah satu-satunya pemberi harapan.”

Banyak quote yang baik tersurat atau tersirat, mengajak kita untuk meninggalkan harapan kita pada manusia yang lain. Sebaliknya, meninggikan harapan pada Allah, zat Yang Maha Memberi. Tentu tidak serta merta ungkapan ini bisa disalahkan. Karena bagaimanapun juga manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas, yang eksistensinya di dunia ini selalu bergantung pada yang lain. Namun konsep “berharap” ini sepatutnya kita telisik lebih jauh.

Memang benar yang memberikan harapan adalah Allah. Tapi tetap saja wasilah (jalan) Allah memberikannya adalah lewat tangan manusia bukan? Maksud saya, ketika manusia benar-benar tidak boleh “berharap” pada manusia lain, bukankah itu aneh? Bukankah nantinya manusia itu hidup tanpa harapan? Toh di dunia yang bisa menolong kita langsung adalah manusia... dengan ESENSI Allah yang menetapkanya. Jadi menurut pandangan saya, sah-sah saja untuk berharap pada manusia. Contohnya, kita berharap orang tua kita menyayangi kita. Kita berharap sahabat kita akan mendukung dan membantu kita saat jatuh. Kita berharap dosen kita memudahkan saat menyusun skripsi. Ya, kita berharap pada manusia untuk menolong kita, atas izin-Nya.

Eits, sebentar! Masih ada yang perlu dicatat. Salahnya kita biasanya karena kita terlalu berharap pada manusia sehingga luput untuk optimal berusaha, luput untuk berdo’a pada Allah. Apalagi jika kita sampai merubah sikap hanya karena manusia tersebut tidak memenuhi harapan kita. Misalnya kita selalu bersikap baik, rendah hati dan senang menolong. Saat kita berada dalam kesulitan, kita berharap akan ada yang membantu kita. Tapi kenyataannya, mereka-mereka sama sekali tidak membantu bahkan terkesan tak pedui. Lantas setelahnya, sikap kita berubah jadi buruk. Wah ini bahaya! Seburuk apapun sikap orang lain terhadap kita, meskipun tidak memenuhi harapan kita : itu wajar. Karena sekali lagi, manusia adalah makhluk yang serba lemah nan terbatas serta tempatnya salah dan khilaf. Dengan demikian, ketika kita berharap pada manusia TANPA menghadirkan Allah dalam harapan itu, maka itu SALAH total.

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 Latifah Ata All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.